kalselupdate.id — Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mendadak menerima panggilan telepon dari Presiden Prabowo Subianto di sela-sela rangkaian acara pelantikan pengurus DPD Partai Golkar Maluku pada Sabtu (7/11/2026). Peristiwa tersebut terjadi tepat ketika Gubernur Maluku sekaligus Ketua DPD Gerindra Maluku, Hendrik Izaac Lewerissa, sedang menyampaikan sambutan di depan para peserta yang hadir.
Momen interupsi singkat itu bermula saat Hendrik tengah memaparkan aspirasi terkait perjuangan Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Kepulauan yang telah diperjuangkan selama dua dekade terakhir. Menyadari Bahlil harus meninggalkan ruangan sejenak untuk menerima panggilan penting dari orang nomor satu di Indonesia, Hendrik memutuskan untuk menghentikan pidatonya sementara waktu guna menghormati situasi tersebut.
“Kami tunggu dulu Bapak Ketum lagi dihubungi Bapak Presiden,” ujar Hendrik Izaac Lewerissa saat menghentikan pidatonya.
Setelah panggilan berakhir, Bahlil kembali memasuki ruangan dengan raut wajah yang tampak ceria. Hendrik, yang menyaksikan kembali kehadirannya, sempat melempar candaan bahwa ekspresi sumringah Bahlil menjadi pertanda bahwa aspirasi yang mereka sampaikan terkait RUU Daerah Kepulauan mendapatkan respons positif dari pemerintah pusat. Harapan tersebut muncul seiring dengan terbentuknya panitia khusus (pansus) yang kini mulai membahas substansi rancangan undang-undang tersebut.
Saat tiba gilirannya untuk menyampaikan sambutan, Bahlil memberikan klarifikasi mengenai isi percakapannya dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengungkapkan bahwa tujuan utama dari telepon tersebut adalah untuk menyampaikan salam hangat dari Presiden kepada Gubernur Maluku serta seluruh tamu undangan yang hadir di lokasi acara. Bahlil menegaskan agar kehadiran telepon tersebut tidak disalahartikan sebagai isu politik yang negatif.
Lebih lanjut, Bahlil memanfaatkan momen tersebut untuk menegaskan kembali komitmen Partai Golkar dalam mendukung pemerintahan Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa hubungan antara Partai Golkar dan Presiden Prabowo memiliki kedekatan historis yang kuat, mengingat sang Presiden merupakan mantan anggota Dewan Pembina Partai Golkar. Bagi Bahlil, keterikatan emosional dan rekam jejak tersebut menjadi fondasi utama sinergi kedua belah pihak ke depannya.
Dalam pidatonya, Bahlil secara lugas menyatakan kesiapan partainya untuk membangun koalisi yang kokoh, bahkan membuka peluang untuk menjalin kerja sama politik permanen. Ia menganalogikan hubungan antara Golkar dan Gerindra sebagai satu rumah namun dengan kamar yang berbeda, mencerminkan kedekatan yang tidak perlu disembunyikan atau membuat partai merasa ragu dalam menentukan arah dukungannya.
Ketegasan Bahlil mengenai koalisi ini menunjukkan arah strategis Partai Golkar dalam mendukung stabilitas pemerintahan. Dengan menyebut Presiden Prabowo sebagai bagian dari keluarga besar Golkar, ia ingin meyakinkan para kader di daerah bahwa sinergi antara partai beringin dan pemerintah pusat akan terus diperkuat. Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi percepatan pembangunan di daerah, termasuk dalam pengawalan RUU Daerah Kepulauan yang menjadi perhatian utama masyarakat Maluku.
Situasi pelantikan yang sempat terinterupsi oleh panggilan telepon tersebut justru memperlihatkan kedekatan komunikasi antara pimpinan partai politik dengan kepala negara. Kejadian tersebut mengakhiri rangkaian acara dengan suasana yang cair namun tetap sarat akan pesan politis mengenai kesolidan koalisi di masa pemerintahan saat ini. Seluruh peserta yang hadir tampak menerima penjelasan Bahlil dengan antusias, memperkuat optimisme di internal DPD Golkar Maluku untuk terus bersinergi dalam agenda nasional.


