kalselupdate.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatannya pada sesi perdagangan hari ini. Hingga pukul 10.24 WIB, IHSG tercatat berada di level 5.449,09, atau mengalami kenaikan sebesar 61,18 poin yang setara dengan 1,14 persen. Penguatan ini sudah terlihat sejak awal pembukaan perdagangan di level 5.397,34 dengan apresiasi awal sebesar 0,18 persen.
Aktivitas perdagangan menunjukkan likuiditas yang cukup tinggi dengan volume transaksi mencapai 161,48 juta lot. Nilai transaksi yang tercatat di bursa hingga waktu tersebut telah menyentuh angka Rp5,08 triliun. Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa lonjakan indeks ini dipicu oleh performa positif pada sektor energi yang naik 2,3 persen, sektor material dasar sebesar 2 persen, serta sektor konsumer kritikal yang menguat 1,9 persen.
Beberapa saham tercatat menjadi pendorong utama kenaikan IHSG, di antaranya adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Di sisi lain, terdapat saham-saham yang memberikan tekanan pada laju indeks, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Bank Mega Tbk (MEGA), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Pasar saat ini tengah mencermati sejumlah perkembangan krusial dari dalam negeri, termasuk arah kebijakan pemerintah dan kondisi stabilitas industri perbankan. Fokus pelaku pasar tertuju pada rencana pengelolaan sumber daya alam serta wacana perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sempat disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, catatan pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai level tertinggi dalam satu dekade terakhir turut menjadi perhatian utama para investor.
Sentimen lain yang memengaruhi pergerakan pasar adalah penantian terhadap rilis data uang beredar periode September 2026 dari Bank Indonesia. Data ini menjadi penting mengingat pertumbuhan uang beredar sempat mengalami perlambatan selama dua bulan berturut-turut sebelumnya. Selain faktor domestik, investor juga memantau dampak dari pergerakan pasar Wall Street yang mengalami pelemahan sebagai salah satu sentimen global yang cukup signifikan bagi bursa lokal.
Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah menerapkan penyesuaian aturan terkait metode penghitungan IHSG yang berlaku efektif mulai 2 November 2026. Berdasarkan regulasi baru tersebut, saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi disertakan dalam penghitungan indeks utama. Kebijakan ini diambil pihak bursa dengan tujuan agar IHSG dapat lebih akurat dalam mencerminkan dinamika dan volatilitas pasar secara keseluruhan dibandingkan dengan metode sebelumnya.
Dari kancah internasional, pengumuman data inflasi Jepang untuk bulan September 2026 turut menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Jumat ini. Data resmi dari Statistics Bureau of Japan menunjukkan bahwa inflasi tahunan Jepang meningkat menjadi 2,1 persen, naik dari posisi 1,9 persen pada dua bulan sebelumnya. Angka ini merupakan level tertinggi sejak Desember 2025 dan menandai kembalinya inflasi inti di atas target yang ditetapkan oleh Bank of Japan.
Realisasi inflasi inti Jepang yang mencakup energi namun mengecualikan harga pangan segar tersebut berada di angka 2,1 persen secara tahunan. Capaian ini menunjukkan peningkatan dari posisi 1,7 persen pada Agustus lalu dan merupakan angka tertinggi dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir. Secara umum, data inflasi tersebut telah sesuai dengan proyeksi yang sebelumnya diestimasikan oleh para analis pasar global, memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi makro di kawasan Asia.


